Showing posts with label Tanah Masa. Show all posts
Showing posts with label Tanah Masa. Show all posts

May 13, 2017

Yip yip in my story

Desa Jeke, kecamatan Tanah Masa, Kabupaten Nias selatan, SUMUT

Berharap ini terakhir ke desa ini, ke desa pinggiran pantai menghadap ke lautan lepas samudera hindia.
Juni tahun lalu mengalami kapal pecah terseret ombak ke pantai ketika ingin keluar dari desa ini, mei tahun ini rasanya ombak laut akan menelan saya ketika akan keluar lagi dari sini.
Desa dengan ombak yang luar biasa besar dan karang yang banyak dipinggiran sehingga ketika keluar masuk desa ini hanya memiliki jalan yang sempit itu juga harus menghitung ombak jika masuk dan keluar dan hanya warga lokal yang sudah tinggal lama di desa pesisir ini yang tau caranya.
Dua kali mengalami bahaya yang membuat saya benar-benar bertanya, apa maksud dan tujuan Tuhan menyuruh saya melayaniNya sampai kesini, sejauh ribuan kilo meter dari nyamannya kampung halaman saya disana.
Ketika tanggal 10 mei kami masuk, suasana lautan sangat tenang dan cuaca cerah dan kami begitu ceria karena baru kali ini begini dan kami berharap esoknya kami keluar cuaca juga begitu tapi nyatanya mau kami dan mauNya Tuhan sangat jauh berbeda. Kapal kami ada agak jauh dari pantai karena terlalu besar untuk merapat kepantai, jadi kami harus naik kapal kecil bermesinkan "robin" dari bibir pantai ke kapal. Awak kapal sudah dikapal dan memberikan tanda kepada kami agar segera menyusul, melihat tingginya ombak saya sudah mulai tidak tenang dan teringat akan kejadian setahun lalu tapi mau tidak mau kami harus keluar jika tidak ingin terlalu lama tinggal disini. Dibantu warga untuk menahan kapal kecil agar kami dibawa ke kapal besar, kami bertiga perempuan terlebih dahulu berangkat dengan 2 awak kapal, dua kakak yang didepan dan belakang saya menggunakan pelampung dan saya tidak karena memang hanya ada 2 pelampung dan entah karena apa juga saya memilih memberikan itu kepada mereka.
Setelah mereka menghitung semua warga melepaskan kapal kami dan kapal mulai berjalan, sekitar 3 menit berjalan tiba2 saya melihat ombak yang begitu tinggi akan segera menghantam kami rasanya saya ingin menangis tapi nyatanya tidak bisa hanya teriakan yang keluar dan dalam hati saya berkata "Terima kasih Tuhan" saya menutup mata, merasakan air membasahi wajah dan pakaian saya serta merasakan 2 hentakan ombak berikutnya setelah itu saya membuka mata saya tau bahwa kapal kami masih berjalan dan puji Tuhan, kami selamat sampai kapal.

ceritanya ga akan sama seperti yang dirasakan, susah mengungkapkannya dengan kata-kata.
Dua malam berturut-turut saya susah tidur karena setiap menutup mata maka saya teringat kembali badai yang kami hadapi, belum lagi ditambah suara ombak yang kedengaran dari tempat tinggal kami menambah rasa takut.

Takut iya, khawatir jelas tapi yang saya mengerti bahwa Tuhan saya selalu menolong saya, menyertai saya, Tuhan saya lebih besar dari gelombang laut ini. Saya akan terus menjalani ini, berjalan dijalan yang Tuhan mau karna mauNya lah yang akan terjadi karna saya ini kepunyaan Dia.

Pulau Tello, 13 Mei 2017

Mazmur 100:3 (TB)  Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.

Psalmen 100:3 (SIMA)  Botoh nasiam ma, Jahowa, Ia do Naibata. Ia do na manompa hita, Ia do simada hita, bangsa-Ni anjaha biribiri na pinarmahan-Ni.

Read More......

March 17, 2017

Teman-ikan gombeng

Menuliskan cerita tentang seseorang dalam buku catatanmu bukanlah hal yang mudah apalagi belum terlalu mengenal bagaimana orang itu, bagaimana kesehariannya dan bagaimana latar belakang kehidupannya. Ibarat seperti disuruh untuk menuliskan biograpi seseorang yang baru saja kamu kenal atau seperti disuruh berpidato tentang seseorang yang namanya baru kamu temukan disecarik kertas yang baru kamu ambil dalam toples undian..haha didepan umum lagi, nah lo apa yang mau kamu ungkapkan tentang orang itu.
----------------------------------------------------------------
Teman berjalan, teman makan, teman minum, teman cerita, teman bernyanyi, teman berbagi apapun yang bisa dibagi, teman bertengkar walaupun tidak tau apa yang dipertengkarkan..haha

Ada sebuah cerita, beginilah ceritanya.

Pada suatu hari di negeri yang tidak diketahui namanya, ada cerita tentang pertemanan ikan dan sayuran. Ikan tentu saja hidup didalam air dan sayuran tentu saja didaratan. Ikan dan sayuran sebelumnya tidak tahu bahwa nantinya mereka akan dipertemukan didalam sebuah wadah yang disebut piring dengan nasi didalamnya. Ketika ikan dan sayuran sudah diolah sedemikian rupa akhirnya mereka diletakkan di meja yang sama namun dalam tempat yang berbeda, mereka sudah saling mengetahui saat itu kalau mereka tidak sendirian ditempat itu. Nah, setelah sekian waktu yang sangat singkat akhirnya mereka dipersatukan juga diwadah itu, iya wadah yang sudah berisi nasi. Disitulah mereka pertama bertemu secara langsung dan mencoba saling memperkenalkan diri. Namun seiring berjalannya waktu, ada yang diketahui dari pertemanan ini, ternyata ikan dan sayur tidak akan sering bersama. Ikan akan selalu bisa bersama nasi begitupun sayur akan lebih sering bersama nasi. Ikan tidak bisa tanpa nasi tapi bisa tanpa sayur, sayur juga akan bisa tanpa ikan tapi tidak bisa tanpa nasi. Ikan dan sayur jarang dipersatukan dalam satu piring kecuali bagi orang yang diet karbo maka mereka akan bisa bersama tanpa nasi...hahhaa

*ini hanya cerita, tentusaja kalau dalam kehidupan nyata ikan, sayur dan nasi mau dimakan bagaimana caranya tergantung selera yang memakannya..haha

Cerita diatas mungkin kurang tepat, ada cerita lain yang mungkin lebih cocok.

Pertama dipertemukan ditempat pekerjaan namun masih berbeda divisi,  hanya saling tahu namun tidak mengenal. Setelah berlama-lama waktu, mungkin karna mauNya Tuhan akhirnya kami ditempatkan di divisi yang sama. Mungkin tidak saling menyukai namun tidak saling membenci juga, hanya mencoba berjalan bersama karena memang diharuskan berjalan dan bekerja bersama untuk untuk menyelesaikan pekerjaan yang dipercayakan kepada kami.

Berbeda karakter, berbeda sifat, berbeda kesukaan, kebanyakan berbedanya namun berbeda itu banyak menyenangkannya ternyata, haha. Seperti ikan dan sayur, laut dan daratan mungkin tidak dapat bersatu namun masih bisa berdampingan kan?
Nah, begitu jugalah kami seiring berjalannya waktu banyak yang berubah, walaupun mungkin masih tetap saling tidak menyukai namun kami mencoba untuk hidup berdampingan,  terus berjalan, bekerja bersama, saling mendukung, saling mengerti dan saling mendoakan satu sama lain.

Rekan kerja yang pada awalnya menyebutkan diri sebagai partner namun akhirnya kata yang cocok hanyalah Teman.
Iya, teman. Teman yang dikirimkan Tuhan untuk menguji kesabaran, untuk memenuhi puzle kehidupan. Teman yang dikirim Tuhan pada waktu yang tepat walaupun mungkin pada situasi dan kondisi yang kurang tepat. Aku tetap bersyukur.

Tanah Masa, Maret 2017
Ikan gombeng, apapun yang kau rasakan tetaplah tersenyum seperti sekarang sampai kita mengakhirinya dengan benar.
Selamat ulang tahun 12 hari lagi..haha

Read More......

January 21, 2017

Pulau Tello - Tanah Masa

Rute perjalanan terakhir, hingga akhirnya akan sampai ke tempat pelayanan.
Perjalanan saja hampir 9 hari dari rumah hingga kesini...hhaha
Upgrade pengendalian diri dep, melayani dengan tulus.
Abaikan yang perlu diabaikan, pedulikan yang perlu dipedulikan.

Semangat, mari kita mulai lagi.

Read More......

January 17, 2017

Teluk Dalam-Pulau Tello

17 Januari 2017
KM. SIMEULUE

Menuju persinggahan berikutnya, sebelum kembali ke Tanah Masa, daerah yang dipercayakan Tuhan.

Beberapa hari di Teluk Dalam, sebenarnya tidak ada yang bisa dilakukan tapi banyak hal yang sudah diputuskan.
Perjalanan laut selama 6,5 jam dari Teluk Dalam ke Pulau Tello, perjalanan ini cukup melelahkan dan menguras energiku. Agak sedikit terkapar lemah..hahaha
Hari minggu kemarin tanggal 15 januari sore aku mendapat kabar dari rumah bahwa oppung kami meninggal. Lama sekali berpikir apakah aku akan pulang lagi kerumah atau harus melanjutkan perjalanan yang sudah kuputuskan untuk melanjutkannya. Setelah berpikir lama, aku memutuskan untuk tidak pulang kerumah, yang sebenarnya aku juga tidak tau alasannya apa, kenapa aku tidak pulang, padahal gampang saja kalau aku mau pulang karena aku bisa mengambil penerbangan pertama dihari senin. Mungkin, hanya mungkin aku takut aku akan merubah kembali keputusanku untuk tetap melayaniNya disini.

Semua yang terjadi ada hal baiknya, walaupun kadang menurut kita itu tidak baik tapi bersyukur sajalah.
Menikmati pelayanan ini, menjalankanya dengan tulus, menyerahkan seutuhnya kehidupanku pada Tuhan, membawa penyembahan dan persembahanku padaNya, semoga semua berkenan padaNya.

16 januari 2017, selamat ulang tahun pudan kami. Tuhan mencurahkan kuasa Roh KudusNya samamu dek, dan semoga pelayananmu kepada Tuhan melalui masyarakat menjadi persembahan yang terbaik kepada Tuhan.

Berjuang kembali di pulau Tanah Masa, semoga Tuhan berkenan kepadaku.
Pulau Tello, semakin tambah pengendalian diri dan semakin bersyukur dep.

Read More......

December 11, 2016

Pulau Tanah Masa, Nias Selatan

Ingin berbagi sedikit tentang geografi tempat ini, tempat dimana saya
Ditempatkan Tuhan melayaniNya, melalui orang orang disini. Lebih suka  menyebut ini pelayanan dibanding pekerjaan..hehe

Kecamatan Tanah Masa, Kabupaten Nias Selatan dan masih Provinsi Sumatera Utara yang merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kurang tau berapa desa di kecamatan Tanah Masa ini, tapi yang menjadi daerah kekuasaan kami (red :area kerja) hanya sembilan desa dari beberapa belas desa..haha
Nah sembilan desa itu adalah.....jeng jeng..haha
Baluta, Eho Baluta, Bawo Ofolua, Hale Baluta, Bawo Orodua, Hiligeho Sogawu, Sifahuruasi, Makole, Jeke.

Nama desanya lucu ya,hehe
Base kami ada di desa Baluta, dekat kantor camat Tanah masa. Desa Eho Baluta, Bawo Ofolua,Hale Baluta masih bisa ditempuh lewat jalan darat menggunakan sepeda motor tetapi Bawo Orodua, Hiligeho Sogawu, Sifahuruasi, Makole dan Jeke harus menggunakan Kapal (jalur laut) karena belum ada jalan untuk sepeda motor kecuali mau jalan kaki berjam-jam untuk Bawo Orodua dan Hiligeho Sogawu (lewat hutan belantara) sedangkan 3 desa terakhir harus jalur laut karena pulaunya terpisah dari daratan pulau Tanah Masa.

Tello, yang sering saya sebutkan merupakan kecamatan Pulau-Pulau Batu yang dekat dengan pulau Tanah Masa. Tingkat kesejahteraan penduduk di Tello lebih tinggi dibandingkan di Tanah Masa.

Bisa lihat di peta pulau Sumatera, dimana letak pulau Tanah Masa ini, dibawah Sibolga ada Pulau Nias nah  dibawah pulau Nias ada Pulau kecil lagi, nah itulah dia..hahhahaa
Jauh loh, tapi kami disini juga masih NKRI, kami masih mengibarkan Sang saka merah putih dan menyanyikan lagu kebangsaan "Indonesia raya" kalau 17 an dan di upacara hari senin disekolah.
Tidak pernah terbayangkan, saya bisa sampai disini dan melihat kehidupan disini, ketika melihat kembali peta indonesia ternyata masih banyak lagi pulau-pulau kecil yang tersebar sepanjang nusantara kita ini dan baru sadar di sana dipulau yang kecil sekali itu masih banyak kehidupan yang harus diperhatikan dan perlu di doakan. Terpencil, terisolir dan jauh dari keramaian kota dan dari informasi-informasi dunia luar.

Mari kita doakan bersama semoga pemerataan kesejahteraan di Indonesia segera terlaksana. Semangat pak Presiden kami, Tuhan beserta bapak

Baluta, desember 2016
Tulisan agak tidak nyambung..haha

Read More......

Setelah membaca-baca tulisan di blog ini akhir-akhir ini, sepertinya blog ini beralih fungsi menjadi tempat curhat..hahhaha

Ini masih cerita tentang pulau-pulau batu ini, tentang pulau-pulau di salah satu sudut sumatera utara ini, masih di kecamatan Tanah masa. Mendung,hujan, angin dan badai masih berlanjut. Hari sabtu, 3 desember kemaren setelah tour around pulau-pulau again kami kembali ke Pulau Tello ( kami punya base di Tello, walaupun base tetap kami ada di Baluta. Tapi kami sering ke Tello, di Tello ada sinyal sedangkan di Baluta tidak ada..haha) yang kebetulan pulau-pulau yg kami kunjungi dekat dengan Tello, jadi kami memutuskan untuk menginap di Tello dan beribadah disana. Keesokan harinya setelah ibadah minggu selesai, kami memutuskan untuk kembali ke Baluta, karena banyak hal yang harus segera dikerjakan sebelum kami liburan natal dan tahun baru nantinya.
Perjalanan Tello-Baluta ditempuh sekitar 1,5-2 jam dengan menggunanakan perahu bermesinkan robin (biasa kami pakai robin ama Erfin) ada juga biasanya kapal yang lebih besar dan kami biasa menyebutnya TS (biasa pake TS ama Romi). Awalnya perjalanan kami santai dan aman, tidak ada angin maupun badai karena matahari cukup cerah hari itu, tapi setelah sekitar 1 jam perjalanan, angin bertiup kencang dan gelombang dilaut jadi besar. Robin kami terombang ambing, awalnya agak sedikit takut tapi setelah melihat beberapa teman juga takut, entah kenapa aku jadi tidak takut lagi otakku mengatakan "jangan takut dep, Tuhan masih ada" iya begitu akhirnya aku mencoba menenangkan teman yang duduk didekatku "udah ga usah takut udah dekat darmaganya, itu udah kelihatan" yang memang sudah dekat..hahaa

Mengalami kejadian-kejadian badai akhir-akhir ini membuat saya merasa semakin kuat dan mengalami kasih Tuhan yang semakin nyata dalam kehidupan saya. Teringat akan salah satu ayat alkitab,
2 Korint 12:9 (SIMALUNGUN)  Jadi nini ma hu bangku, “Sungkup do idop ni uhur-Hu bam, ai ibagas hagalekon do gabe gok hagogohon. ” Ase dearan ma hupuji diringku halani hagalekon, ase sogop bangku hagogohon ni Kristus.

Iya, justru dalam kelemahankulah kuasa Tuhan menjadi sempurna, aku dikuatkan olehNya karena bagiku kasih karunia Tuhan sangat cukup dalam hidupku.

Akhirnya, perjalanan laut kami berakhir dan kami tiba dengan selamat di Pulau Tanah Masa (Baluta) ini. Setelah tiba di base, hujan kembali mengguyur tanah ini dan badai berlanjut hingga hari ini, beberapa kegiatan harus di cancel karena hujan yang tidak kunjung berhenti, pakaian sudah banyak yang basah, alhasil harus hemat pakai baju..haha

Cerita tentang badai, teringat kembali kejadian beberapa bulan yang lalu, tepatnya bulan juli ketika kapal yang kami tumpangi hendak kembali ke Baluta, hampir saja terbalik karena diterjang ombak pantai. Kejadian ini terjadi di Pulau Jeke, pulau terjauh yang menjadi area pelayanan kami sekitar 4-5 jam dari Baluta, yang menyebabkan kami harus tinggal 1 malam lagi di desa ini karena kapal kami rusak kena banting karang. Desa ini terletak dipinggir pantai laut lepas, jadi ombaknya sangat besar dan banyak karang dipinggiran pantai, jika masuk atau keluar pulau ini harus mengitung ombak kata penduduk sini yang nota bene kami tidak mengerti perhitungannya..hahaa

Baluta, Tanah Masa.
7 desember 2016.
Aku percaya, Aku punya Tuhan yang BESAAAAAAAAAAAR (tak terhingga) dibandingkan ombak-ombak ini bahkan ombak laut lepas ini sekalipun, karena ini semua dibawah kekuasaanNya..hehe

*untuk pengertian ombak dan gelombang ditulisan ini saya samakan saja..haha walaupun secara fisika itu berbeda.

Read More......

November 29, 2016

Perjalanan hari ini luar biasa, badai dari desa Makole hingga Baluta membuat jantung sedikit, bukan sedikit tapi banyak deg-degnya..hahha
Hari rabu kemaren berangkat dari Tello menuju pulau-pulau kecil yang lumayan jauh dari area tempat tinggal kami , tapi ditengah laut badai menghampiri jadi kami putuskan tidak jadi ke pulau kecil dan kembali ke Baluta dan akan melanjutkan perjalanan besok paginya.

Besok paginya sebelum ke makole kami memutuskan untuk pergi ke desa Sifahuruasi (pulau jauh) yang masih kecamatan Tanah masa terlebih dahulu, hari agak mendung tapi puji Tuhan tidak ada badai dan kami boleh tiba dengan selamat walaupun sorenya langsung badai lagi..haha
Melayani di desa ini menjadi ucapan syukur yang menyenangkan menurutku, entahlah bagaimana hanya saja aku merasa nyaman disini.

Setelah menginap semalam akhirnya kami bertolak ke desa Makole, yang lama perjalanan laut sekitar 1 jam, desa Makole letaknya tepat di depan Sifahuruasi. Menginjakkan kaki di pulau ini bukan yang pertama kali bagiku, ini kali ke-4 atau kelima aku lupa, tapi desa (pulau) ini masih saja sama seperti ada penolakan untuk kedatangan kami tidak tau kenapa, apa mungkin hanya perasaanku saja..haha

Tapi yang mau aku kasi tahu tentang pulau Makole ini adalah pantainya yang indah sekali yang sering disebut pantai pasir berbisik. Susah untuk menggambarkan keindahan pantainya yang bisa terucapkan hanya ucapan syukur kepada Tuhan karena aku boleh menginjakkan kaki ku di pulau-pulau kecil ini. Pulau yang dimana ketika kau melihatnya maka kau akan bersyukur sangat dalam kehidupan ini baik dalam segi keindahannya maupun kehidupan warganya.

Tanah Masa, 26 November 2016
Aku tidak takut badai karena aku sedang belajar mengemudikan kapalku.

Read More......

November 21, 2016

Beberapa hari ini suara ombak begitu kuat disini, yang kebetulan rumah yang kami diami hanya berjarak beberapa meter dari bibir pantai.  Sedikit takut awalnya tapi ketika aku diingatkan Tuhan melalui membaca Mazmur 18:2-3 aku tau Dia besertaku, Dia membentengi aku dengan KemahakuasaanNya yang sempurna. Iya, hanya berserah saja kepada pemilik kita seutuhnya maka semua akan baik-baik saja.
Jangan kwatir, percayakan semua kehidupan ini kepada Sang Pemberi Kehidupan.
Beberapa hari terakhir ini aku diingatkan terus tentang KebesaranNya, tentang bagaimana aku harus sangat bersyukur dalam kehidupan ini, bagaimana aku harus memuji kebesaranNya. Ketika aku ditempatkan disini maka aku memang berguna disini.

Tulisan ini disambung setelah hampir 2 minggu..haha
Besok berencana ke pulau2 kecil yang lebih jauh lagi yang tidak ada sinyal. Semoga cuaca bagus dan kami boleh melayani disana dengan baik.
Amin

Tello Island, 22 nopember 2016
Jangan terlalu ekspektasi tinggi pada orang lain.
Berharap hanya pada Tuhan dan itu sudah paling Ok dep, ga akan kecewa kok..haha

Read More......

March 19, 2016

Terima kasih

Hampir 3 bulan sudah berada di pulau Tanah masa, dan terima kasih Tuhan saya boleh berada disini bertemu orang- orang ini, menikmati pantai disini dan akhirnya menyukai laut.
Banyak hal menyenangkan walupun akhirnya wajah makin gosong..hahaha
Selamat malam, terima kasih boleh melihat semua ini.

Read More......